Sabtu, 21 September 2013

ADSORPSI ZAT WARNA LIMBAH BATIK dengan PEMANFAATAN LIMBAH KULIT KOPI SEBAGAI ADSORBEN



ADSORPSI ZAT WARNA LIMBAH BATIK dengan PEMANFAATAN LIMBAH KULIT KOPI SEBAGAI ADSORBEN
NUR ANIQ 103020040
Teknik Kimia 
Universitas Wahid Hasyim Semarang


Batik merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang telah mendapat pengakuan internasional dari UNESCO pada tahun 2009. Pencanangan hari batik nasional telah berperan meningkatkan minat pemakai batik. Berdasarkan data Kementrian Perindustrian, pada tahun 2010 jumlah konsumen batik tercatat 72,86 juta orang (Kompas, 2011).Meningkatnya permintaan dan konsumsi batik berdampak tumbuh dan berkembangnya sentra-sentra industri batik di di berbagai daerah di Indonesia.
Namun demikian, perkembangan industri batik juga menimbulkan dampak negatif bagi lingkungan sekitar industri, yakni pencemaran air oleh limbah cair yang dihasilkan oleh pembuatan batik. Limbah batik dilaporkan mengandung zat warna. Zat warna merupakan senyawa organik yang mengandung gugus kromofor terkonjugasi. Zat warna reaktif merupakan zat warna yang banyak digunakan untuk pewarnaan tekstil. Zat warna yangs ering digunakan dalam industri batik kecil maupun besar antara lain adalah: Remazol Brilliant Orange 3R, Remazol Golden Yellow, Remazol Red, dan Remazol Black B (Catanho, 2006).
Pengolahan limbah cair dimaksudkan untuk menghilangkan kadar bahan pencemar yang terkandung di limbah cair agar memenuhi syarat untuk dapat dibuang ke lingkungan (memenuhi baku mutu yang ditetapkan). Limbah yang dibuang tanpa pengolahan dapat membahayakan bagi kesehatan, seperti iritasi pada kulit. Teknologi pengolahan limbah cair baik secara biologi, kimia, fisika, maupun kombinasi antara ketiga proses tersebut dapat digunakan untuk mengolah limbah cair industri batik.
Proses penghilangan warna dan senyawa organik yang ada dalam limbah cair industri batik secara kimia antara lain melalui degradasi warna dengan reaksi oksidasi, reaksi anaerob dan reaksi fotokatalisis (Rashed, 2007). Namun demikian proses kimia seperti penggunaan reaksi fotokatalisis memiliki kelemahan yakni membutuhkan biaya yang cukup tinggi karena harga reagen fotokatalisis seperti TiO2 cukup mahal. Selain itu diperlukan perlakuan lebih lanjut terhadap TiO2 setelah proses dekolorisasi zat warna selesai.
Pengolahan limbah cair industri batik secara fisika yang telah dilakukan diantaranya adalah dengan koagulasi, sedimentasi, adsorpsi menggunakan karbon aktif, silika dan biomaterial (Mondal, 2008). Cara pengolahan limbah dengan cara koagulasi, sedimentasi maupun adsorpsi memiliki efisiensi yang baik dalam pengolahan limbah tetapi juga menimbulkan limbah baru, yaitu flok/ koagulan yang tidak dapat digunakan lagi. Penggunaan karbon aktif untuk menghilangkan warna juga memerlukan biaya yang cukup tinggi karena harga karbon aktif relatif mahal.
Pengolahan limbah cair dengan menggunakan proses biologi juga banyak diterapkan untuk mereduksi senyawa organik limbah cair industri batik. Namun efisiensi penghilangan warna melalui proses biologi ini seringkali tidak memuaskan, karena zat warna mempunyai sifat tahan terhadap degradasi biologi (recalcitrance).
Dewasa ini, teknologi adsorpsi basis biomassa telah menjadi proses alternatif bagi pengolahan limbah logam berat. Penggunaan adsorben berbasis biomassa yang murah seperti limbah pertanian, limbah perkebunan, limbah industri makanan, telah banyak direkomendasikan penggunaanya dalam berbagai industri dengan berbagai alasan, antara lain: (i) ketersediaan yang berlimpah, (ii) kemudahan secara teknis, (iii), potensi rekayasa aplikasi, dan (iv) keefektifan dari segi biaya  (Ahalya, 2005; Kuswaha, 2008; Odoemelam, 2011; Sheen, 2011).
Beberapa biomassa yang telah diteliti penggunaannya sebagai adsorben antara lain adalah jerami padi, sekam padi, dan daun mangga. Penggunaan biomassa tersebut adalah berdasar pada mekanisme bahwa gugus –OH selulosa dalam biomassa tersebut mampu berreaksi dengan gugus-gugus yang ada pada zat warna tekstil, sehingga zat warna tersebut dapat terikat pada biomassa.
Salah satu biomassa yang merupakan sumber selulosa, sehingga dapat digunakan sebagai adsorben dalam pengolahan limbah cair industri batik adalah kulit kopi.
Kulit kopi disebutkan memiliki kandungan selulosa 15-43% (Misran, 2009), sementara kadar pektin kulit kopi mencapai 6,5% (Mazzafera, 2002). Kulit kopi merupakan limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan kopi. Pengolahan kopi secara basah akan menghasilkan limbah padat berupa kulit buah ( pulpa kopi) pada proses pengupasan buah (pulping) dan kulit tanduk pada saat penggerbusan (hulling). Limbah kulit kopi dapat mencapai 28,7% dari produksi kopi (Parani, 2010). Jika produksi kopi pada tahun 2008 mencapai  683 ribu ton (Deptan, 2009) maka limbah kulit kopi dapat mencapai 196,2 ribu ton. 
Limbah kulit kopi yang berlimpah tersebut hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal. Umumnya kulitkopi hanya ditumpuk di sekitar lokasi pengolahan, sehingga menimbulkan bau busuk dan cairan yang mencemari lingkungan. Sementara ini, kulitkopi baru dimanfaatkan sebagai pupuk kompos, bahan baku biogas, media tanam jamur, pakan ternak, karbon aktif dan produksi bioetanol (Rathinavelu, 2005; Yesuf, 2010). Oleh karena itu, perlu digali potensi pemanfaatan kulitkopi guna mengurangi potensi pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah kulit kopi.
Pemanfaatan kulitkopi yang belum tergali dan sangat berpotensi untuk dikembangkan adalah pemanfaatan kulitkopi sebagai bahan baku adsorben yang lebih lanjut dapat digunakan dalam proses pemisahan zat warna pada limbah cair industri batik.

DAFTAR PUSTAKA

Setyaningsih, P., Penyisihan Warna dan Biodegradasi Organik Limbah Pewarna Batik Menggunakan Reaktor Kontinyu Fixed-Bed Anaerob-Aerob, Publisher, 2006-04-19, 12:50:19.
Setyowati, I., 2007, Pembuatan Membran SiO2 dari Sekam Padi untuk Menyaring Unsur Fe, Mn, dan Mg dalam Air, Jurusan Fisika, Fakultas MIPA,UNDIP, Semarang.
Suwarsa , S., 1997, Penyerapan Zat Warna TekstilBR Red HE 7B Oleh Jerami Padi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, ITB, Bandung.
Vogel., 1990, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro edisi ke-5, PT. Kalman Media Pustaka, Jakarta.
Alamsyah Z. 2007. Biosorpsi Biru Metilena Oleh Kulit Buah Kakao [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan IPA, Institut Pertanian Bogor.
Catanho, M, 2006, Avaliacao Dos Tratamentos Eletroquimico E      potoeletroquimico Na Degradacao De Corantes Texteis, Quim.Nova, Vol.29, No.5
Gufta FK. 1998. Utilization of bagasse fly ash generated in the sugar industry for removal and recovery of phenol and p- Nitrophenol from wastewater. J Chem Tech Biotechnology 70: 180-186.
Raghuvanshi SP, Singh R, Kaushik CP. 2004. Kinetics study of methylene blue dye bioadsorption on bagasse. App Ecol Environ Research 2: 35-43.
Tobing, Maria Mary D. dan Kartika, Liza S. 2006. Pemanfaatan Limbah Pertanian sebagai Bahan Penyerap Logam Timbal (Pb) dalam Limbah Sintetik. Laporan Penelitian. Medan : Jurusan Teknik Kimia, ITM (Tidak dipublikasikan)
Fahrizal. 2008. Pemanfaatan tongkol jagung sebagai biosorben zat warna biru metilena [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor.
Yesuf, Y.K., 2010,” Chemical Composition and In Vitro Digestibility of Coffee Pulp and Coffee Husk Ensiled with Grass Hay and EM”, A Thesis Submitted to Jimma University
Zawani, Z., Luqman, C.A., Choong, T., 2008, “Equilibrium, Kinetics and Thermodynamics Studies: Adsorption of remazol Black 5 on PKS_AC”, Europian Journal of Scientific Research, vol 37 (1) 67-76

 


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar