ADSORPSI ZAT WARNA LIMBAH BATIK dengan PEMANFAATAN LIMBAH KULIT
KOPI SEBAGAI ADSORBEN
NUR ANIQ 103020040
Teknik Kimia
Universitas Wahid Hasyim Semarang
Batik merupakan salah satu kekayaan budaya bangsa Indonesia yang
telah mendapat pengakuan internasional dari UNESCO pada tahun 2009. Pencanangan
hari batik nasional telah berperan meningkatkan minat pemakai batik.
Berdasarkan data Kementrian Perindustrian, pada tahun 2010 jumlah konsumen
batik tercatat 72,86 juta orang (Kompas, 2011).Meningkatnya permintaan dan
konsumsi batik berdampak tumbuh dan berkembangnya sentra-sentra industri batik
di di berbagai daerah di Indonesia.
Namun
demikian, perkembangan industri batik juga menimbulkan dampak negatif bagi
lingkungan sekitar industri, yakni pencemaran air oleh limbah cair yang
dihasilkan oleh pembuatan batik. Limbah batik dilaporkan mengandung zat warna. Zat
warna merupakan senyawa organik yang mengandung gugus kromofor terkonjugasi. Zat
warna reaktif merupakan zat warna yang banyak digunakan untuk pewarnaan
tekstil. Zat warna yangs ering digunakan dalam industri batik kecil maupun
besar antara lain adalah: Remazol Brilliant Orange 3R, Remazol Golden
Yellow, Remazol Red, dan Remazol Black B (Catanho, 2006).
Pengolahan
limbah cair dimaksudkan untuk menghilangkan kadar bahan pencemar yang
terkandung di limbah cair agar memenuhi syarat untuk dapat dibuang ke
lingkungan (memenuhi baku mutu yang ditetapkan). Limbah yang dibuang tanpa
pengolahan dapat membahayakan bagi kesehatan, seperti iritasi pada kulit. Teknologi
pengolahan limbah cair baik secara biologi, kimia, fisika, maupun kombinasi antara
ketiga proses tersebut dapat digunakan untuk mengolah limbah cair industri
batik.
Proses
penghilangan warna dan senyawa organik yang ada dalam limbah cair industri
batik secara kimia antara lain melalui degradasi warna dengan reaksi oksidasi,
reaksi anaerob dan reaksi fotokatalisis (Rashed, 2007). Namun demikian proses
kimia seperti penggunaan reaksi fotokatalisis memiliki kelemahan yakni membutuhkan
biaya yang cukup tinggi karena harga reagen fotokatalisis seperti TiO2 cukup
mahal. Selain itu diperlukan perlakuan lebih lanjut terhadap TiO2 setelah
proses dekolorisasi zat warna selesai.
Pengolahan
limbah cair industri batik secara fisika yang telah dilakukan diantaranya
adalah dengan koagulasi, sedimentasi, adsorpsi menggunakan karbon aktif, silika
dan biomaterial (Mondal, 2008). Cara pengolahan limbah dengan cara koagulasi,
sedimentasi maupun adsorpsi memiliki efisiensi yang baik dalam pengolahan
limbah tetapi juga menimbulkan limbah baru, yaitu flok/ koagulan yang tidak
dapat digunakan lagi. Penggunaan karbon aktif untuk menghilangkan warna juga
memerlukan biaya yang cukup tinggi karena harga karbon aktif relatif mahal.
Pengolahan
limbah cair dengan menggunakan proses biologi juga banyak diterapkan untuk
mereduksi senyawa organik limbah cair industri batik. Namun efisiensi
penghilangan warna melalui proses biologi ini seringkali tidak memuaskan,
karena zat warna mempunyai sifat tahan terhadap degradasi biologi (recalcitrance).
Dewasa
ini, teknologi adsorpsi basis biomassa telah menjadi proses alternatif bagi
pengolahan limbah logam berat. Penggunaan adsorben berbasis biomassa yang murah
seperti limbah pertanian, limbah perkebunan, limbah industri makanan, telah
banyak direkomendasikan penggunaanya dalam berbagai industri dengan berbagai
alasan, antara lain: (i) ketersediaan yang berlimpah, (ii) kemudahan secara
teknis, (iii), potensi rekayasa aplikasi, dan (iv) keefektifan dari segi
biaya (Ahalya, 2005; Kuswaha, 2008;
Odoemelam, 2011; Sheen, 2011).
Beberapa
biomassa yang telah diteliti penggunaannya sebagai adsorben antara lain adalah
jerami padi, sekam padi, dan daun mangga. Penggunaan biomassa tersebut adalah
berdasar pada mekanisme bahwa gugus –OH selulosa dalam biomassa tersebut mampu
berreaksi dengan gugus-gugus yang ada pada zat warna tekstil, sehingga zat
warna tersebut dapat terikat pada biomassa.
Salah
satu biomassa yang merupakan sumber selulosa, sehingga dapat digunakan sebagai
adsorben dalam pengolahan limbah cair industri batik adalah kulit kopi.
Kulit
kopi disebutkan memiliki kandungan selulosa 15-43% (Misran, 2009), sementara
kadar pektin kulit kopi mencapai 6,5% (Mazzafera, 2002). Kulit kopi merupakan
limbah yang dihasilkan dari proses pengolahan kopi. Pengolahan kopi secara
basah akan menghasilkan limbah padat berupa kulit buah ( pulpa kopi) pada
proses pengupasan buah (pulping) dan kulit tanduk pada saat penggerbusan
(hulling). Limbah kulit kopi dapat mencapai 28,7% dari produksi kopi (Parani,
2010). Jika produksi kopi pada tahun 2008 mencapai 683 ribu ton (Deptan, 2009) maka limbah kulit
kopi dapat mencapai 196,2 ribu ton.
Limbah
kulit kopi yang berlimpah tersebut hingga kini belum dimanfaatkan secara
optimal. Umumnya kulitkopi hanya ditumpuk di sekitar lokasi pengolahan,
sehingga menimbulkan bau busuk dan cairan yang mencemari lingkungan. Sementara
ini, kulitkopi baru dimanfaatkan sebagai pupuk kompos, bahan baku biogas, media
tanam jamur, pakan ternak, karbon aktif dan produksi bioetanol (Rathinavelu,
2005; Yesuf, 2010). Oleh karena itu, perlu digali potensi pemanfaatan kulitkopi
guna mengurangi potensi pencemaran yang ditimbulkan oleh limbah kulit kopi.
Pemanfaatan
kulitkopi yang belum tergali dan sangat berpotensi untuk dikembangkan adalah
pemanfaatan kulitkopi sebagai bahan baku adsorben yang lebih lanjut dapat
digunakan dalam proses pemisahan zat warna pada limbah cair industri batik.
DAFTAR
PUSTAKA
Setyaningsih, P., Penyisihan Warna dan Biodegradasi Organik Limbah
Pewarna Batik Menggunakan Reaktor Kontinyu Fixed-Bed Anaerob-Aerob, Publisher,
2006-04-19, 12:50:19.
Setyowati, I., 2007, Pembuatan Membran SiO2 dari Sekam Padi untuk
Menyaring Unsur Fe, Mn, dan Mg dalam Air, Jurusan Fisika, Fakultas MIPA,UNDIP,
Semarang.
Suwarsa , S., 1997, Penyerapan Zat Warna TekstilBR Red HE 7B Oleh
Jerami Padi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, ITB, Bandung.
Vogel., 1990, Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan
Semimikro edisi ke-5, PT. Kalman Media Pustaka, Jakarta.
Alamsyah Z. 2007. Biosorpsi Biru Metilena Oleh Kulit
Buah Kakao [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan IPA, Institut Pertanian
Bogor.
Catanho, M, 2006, Avaliacao Dos Tratamentos Eletroquimico E potoeletroquimico Na Degradacao De
Corantes Texteis, Quim.Nova, Vol.29, No.5
Gufta FK. 1998. Utilization of bagasse fly ash generated in the
sugar industry for removal and recovery of phenol and p- Nitrophenol from
wastewater. J Chem Tech Biotechnology 70: 180-186.
Raghuvanshi SP, Singh R, Kaushik CP. 2004. Kinetics study of
methylene blue dye bioadsorption on bagasse. App Ecol Environ Research 2:
35-43.
Tobing, Maria Mary D. dan Kartika, Liza S. 2006. Pemanfaatan Limbah
Pertanian sebagai Bahan Penyerap Logam Timbal (Pb) dalam Limbah Sintetik.
Laporan Penelitian. Medan : Jurusan Teknik Kimia, ITM (Tidak dipublikasikan)
Fahrizal. 2008. Pemanfaatan tongkol jagung sebagai biosorben zat
warna biru metilena [skripsi]. Bogor: Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Institut Pertanian Bogor.
Yesuf,
Y.K., 2010,” Chemical Composition and In Vitro Digestibility of Coffee Pulp and
Coffee Husk Ensiled with Grass Hay and EM”, A Thesis Submitted to Jimma
University
Zawani,
Z., Luqman, C.A., Choong, T., 2008, “Equilibrium, Kinetics and Thermodynamics
Studies: Adsorption of remazol Black 5 on PKS_AC”, Europian Journal of
Scientific Research, vol 37 (1) 67-76
Tidak ada komentar:
Posting Komentar